Sosialisasi dan Pemantapan WPA Desa Ngadiroyo Tahun 2019

Mulyono, Eni Andri Astuti, Tatik (dari kanan) saat acara Sosialisasi dan Pemabntapan WPA Desa Ngadiroyo di Gedung Serba Guna Desa Ngadiroyo, Sabtu (15/6/2019).

ngadiroyo.sideka.id || HIV dan AIDS merupakan sesuatu yang berbeda namun saling berhubungan. HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Secara umum HIV dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan timbulnya penyakit, bakteri serta virus yang menyerang tubuh. Untuk mengantisipasi HIV/AIDS khususnya di Desa Ngadiroyo Kecamatan Nguntoronadi, Pemerintah Desa menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pemantapan Warga Peduli AIDS (WPA) Tahun 2019. Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu (22/6/2019) di Gedung Serba Guna tersebut terkait tindak lanjut dari pembentukan WPA Desa Ngadiroyo pada pertengahan Tahun 2018 lalu.

Eni Andri Astuti sebagai Petugas HIV/AIDS dari Puskesmas Nguntoronadi II saat menyampaikan materi pada Sosialisasi dan Pemantapan WPA Desa Ngadiroyo.

Dalam menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pemantapan WPA ini, Pemerintah Desa menghadirkan narasumber dari Puskesmas Nguntoronadi II. Selain dihadiri oleh Tatik dan Eni Andri Astuti selaku bidan dari Puskesmas Nguntoronadi II, acara ini juga dihadiri oleh Pengurus WPA, Karang Taruna, RW Setempat dan Mahasiswa KKNT dari IPB dan UNDIP. Kegiatan ini bertujuan dalam Rangka Pencegahan, Penularan dan Pengendalian HIV/AIDS serta memantapkan peran dan fungsi Pengurus WPA Desa Ngadiroyo.

Warga Peduli AIDS (WPA) merupakan gerakan yang dilakukan masyarakat untuk membangun kesadaran dalam pencegahan dan penanggulan secara medis terhadap kasus HIV/AIDS. Dalam sosialisasi dipaparkan mengenai ciri-ciri orang yang terkena HIV/AIDS, dampak dan cara penanggulangannya. Ciri-ciri orang yang terkena HIV sebenarnya berbeda-beda namun secara garis besar dikatakan bahwa gejalanya  seperti rambut rontok, sering mengalami diare, batuk, pilek, demam, kehilangan berat badan, dll. Jika virus HIV dibiarkan, maka bisa mengarah ke AIDS dengan gejala yang lebih parah.

 

Pengurus WPA Desa Ngadiroyo hadir dalam Sosialisai dan Pemantapan WPA Desa Ngadiroyo Tahun 2019.

Selanjutnya Eni Andri Astuti selaku Petugas HIV/AIDS memaparkan mengenai dampak HIV/AIDS terhadap sosial masyarakat yang dibagi menjadi tiga yakni infeksi, dampak produktifitas (umur usia produktif pendek, mangkir tidak masuk kerja, biaya perawatan penderita meningkat), sera dampak ekonomi (perkembangan ekonomi terhambat, kecemburuan sosial). Untuk mencegah terjadi HIV/AIDS perlu dilakukan penanggulangan. Penanggulangan dilakukan mulai dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), kemudian dilanjut oleh masyarakat sipil dan pemerintah yang harus mengarahkan dan membimbing dan pada akhirnya dilanjut oleh warga peduli AIDS.Virus HIV tidak sepenuhnya dapat disingkirkan. Sampai saat ini belum didapatkan obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Apabila seseorang terinfeksi HIV, maka akan memilikinya seumur hidup.

Di akhir sosialisasi, Eni menghimbau kepada masyarakat khususnya Pengurus WPA agar tidak mendiskriminasi atau mengucilkan warga/penderita yang terkena penyakit HIV/AIDS. Karena hal tersebut dapat menyebabkan orang tersebut menjadi tidak percaya diri. Pengurus juga harus dapat memberi contoh bahwa penyakit HIV/AIDS tidak menular melalui makanan/minuman dan berjabat tangan. Oleh karena itu, sangat ditegaskan untuk dapat merangkul keluarga atau warga yang terkena penyakit HIV. (KKNT IPB 2019)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan