Pot “ngacir”, hasil kerajinan ban bekas oleh Karang Taruna Desa Ngadiroyo

Pot "ngacir" hasil kerajinan dari ban bekas yang dibuat oleh Karang Taruna Desa Ngadiroyo.

ngadiroyo.sideka.id || Awal tahun 2020, Karang Taruna “Satya Muda” Desa Ngadiroyo membuat sebuah inovasi baru. Karang Taruna “Satya Muda” Desa Ngadiroyo mempunyai ide untuk pembuatan kerajinan pot “ngacir”dari ban bekas. Kerajinan ini dibuat dari ban bekas sepeda motor maupun mobil dengan tampilan berbagai motif dan warna yang tentunya sangat keren.

Pembuatan kerajinan dari ban bekas ini bermula dari ide/gagasan Manodo Ari Subandrio (Kaur Perncanaan) dan Agus Efendi (tokoh masyarakat Dusun Tritis). Ide pembuatan kerajinan mempunyai tujuan untuk kegiatan pemberdayaan Karang Taruna. Kegiatan ini intinya untuk menghidupkan Karang Taruna Desa yang vakum dengan mencoba membangun dari bawah yaitu dari tingkat Sub Dusun. Harapannya dengan adanya kegiatan tersebut dapat memudahkan dalam berkoordinasi.

Salah satu proses dalam pembuatan kerajinan pot “ngacir” adalah pengecatan untuk menghasilkan pot dengan berbagai warna dan motif.

Dedy selaku anggota Karang Taruna Sub Dusun Tritis sekaligus sebagai pelopor pembuatan pot “ngacir ini menjelaskan pertama kali belajar cara pembuatan pot melalui Youtube.

“Cara pembuatan pot dari ban bekas kita dapatkan dari Youtube. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mempelajari cara pembuatan pot tersebut,” jelasnya.

Setelah belajar dari Youtube, Dia mulai mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dengan mulai mencoba membuat desain pot. Dalam membuat desain pot dia membutuhkan pisau atau silet. Namun Dia mengatakan lebih mudah menggunakan silet dari pada pisau. Sementara untuk ban bekas sebagai bahan baku pembuatan pot diperoleh dari bengkel-bengkel ban sekitar Kota Wonogiri.

Berbagai warna dan motif kerajinan pot dari ban bekas yang dihasilkan oleh Karang Taruna Desa Ngadiroyo.

“Langkah awal yang dilakukan dalam pembuatan pot adalah membuat desain pot atau dikatakan barang setengah jadi. Ban bekas diiris sebelah sisi untuk dijadikan bagian atas pot, kemudian dilanjut dengan membuat bagian alas/bawah pot. Dalam membuat 1 pot membutuhkan waktu sekitar 1 jam tergantung ban bekas yang digunakan. Setelah desain pot selesai dibuat, proses dilanjutkan dengan pengecatan”, jelas Dedy.

Dalam proses pengecatan dibutuhkan cat dan thiner. Cat yang digunakan untuk mempercantik pot adalah cat minyak. Cat minyak dipilih karena mengutamakan kualitas produk. Dengan menggunakan cat minyak hasilnya mengkilap dan tidak mudah luntur. Untuk proses pengecatan terlebih dulu kita beri cat dasar, kemudian setelah kering kita beri cat warna untuk memberi motif. Setelah di cat dengan berbagai motif selanjutnya pot dijemur agar cat kering dan hasilnya lebih bagus.

Ayunan merupakan inovasi lain dari kerajinan ban bekas selain pot dan tempat sampah.

Pembuatan pot “ngacir” ini biasanya dilakukan pada siang hari untuk proses barang setengah jadi. Sementara untuk untuk pengecatan dilakukan malam hari. Untuk proses pengecatan dikerjakan bersama-sama oleh anggota Karang Taruna. Motif kerajinan pot yang dihasilkan sesuai ide dan gagasan dari para pengecat. Untuk motif biasanya tersedia motif pilkadot, pita, kartun/karakter, bunga, dll. Untuk motif polkadot menjadi motif favorit pembeli. Dan untuk pembeli yang menginginkan motif lain bisa memesan sesuai selera/permintaan.

Pot “ngacir” hasil kreasi anak-anak Karang Taruna ini dijual dengan harga mulai dari Rp. 30.000,-saja. Harga pot tergantung dari ukuran ban dan desainnya. Sampai saat ini kerajinan ban bekas ini telah terjual sekitar 200 buah pot. Pot aneka warna dan motif ini diminati oleh masyarakat sekitar maupun luar daerah. Bahkan pot keren ini juga telah dikirim ke jakarta. Selain motif yang oke dan harga yang murah, pot dari ban bekas ini juga dijamin awet.

Selain pot, Karang Taruna juga telah membuat jam raksasa dari ban bekas pesanan dari PAUD Desa Ngadiroyo. Saat ini Karang Taruna juga terus berupaya mengembangkan kerajinan ban bekas dalam bentuk lain. Beberapa ide muncul seperti pembuatan tempat sampah, ayunan, dan tempat minum hewan ternak. Semoga kegiatan ini terus maju dan berkembang serta memberikan inspirasi dan manfaat.

 

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan